Selasa, 11 Januari 2011

Umayyah binti Qais al-Ghiffariah, Sang Perawat di Medan Jihad

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sebuah kalung dihadiahkan Rasulullah SAW atas keberanian Umayyah binti Qais al-Ghiffariah turun ke medan Perang Khaibar. Meski seorang perempuan, keberanian Umayyah untuk membela agama Allah SWT sungguh luar biasa. Ia membela agama Allah sesuai dengan kemampuannya.

Wanita pemberani itu turun ke medan perang untuk membantu dan merawat para sahabat yang terluka. Kalung yang disematkan Rasulullah SAW di leher Umayyah, merupakan tanda kekaguman atas pengorbanan dan keberanian sang perawat mujahidah.

Umayyah berasal dari suku Ghiffar, keturunan Abu Dzar al-Ghiffari. Pada saat masih belia, cahaya iman yang ditebarkan Rasulullah SAW menyinari harinya. Ia pun rela menempuh perjalanan jauh demi bertemu tokoh idola sepanjang zaman, Rasulullah SAW. Umayyah menghadap Rasulullah dan berjanji untuk membantu perjuangan dakwah Islamiyah.

Pada tahun ke-7 Hijriah atau 629 M, pasukan Rasulullah SAW bertempur melawan orang-orang Yahudi yang tinggal di Oasis Khaibar, sejauh 150 kilometer dari Madinah atau Timurlaut Semenanjung Arab. Dengan demikian, pertempuran itu dikenal sebagai Perang Khaibar. Perang itu terjadi tak lama setelah Perjanjian Hudaibiyah.

Mendengar pasukan Muslimin akan berangkat ke medan perang, Umayyah bersama beberapa wanita dari Bani Ghiffar lalu menghadap Rasulullah SAW. "Wahai Rasulullah, kami ingin keluar bersamamu (ke Khaibar), kami ingin mengobati mereka yang luka dan menolong kaum Muslimin semampu kami," ujar Umayyah seperti dituturkan Ibnu Hisyam dalam "Para Syuhada Wanita Khaibar dan Kisah Wanita dari Suku Ghiffar."

Rasulullah SAW pun menjawab, "Berangkatlah atas berkah Allah SWT."

Saat itu, usia Umayyah masih belia. "Berangkatlah kami bersama beliau. Saat itu saya masih seorang gadis kecil," ungkap Umayyah. Di perjalanan, Rasulullah membonceng Umayyah di atas kudanya. Umayyah pun mengisahkan pengalaman yang tak pernah terlupakan saat bersama Rasulullah berjihad ke medan perang.

"Demi Allah, pada saat Rasulullah SAW turun pada suatu pagi dari kendaraannya dan menambatkan kudanya, tiba-tiba menetes darah dariku di atas pelana kudanya. Itulah haid pertama saya di atas kuda beliau. Saya benar-benar malu saat itu," papar Umayyah berkisah.

Rasulullah SAW melihat apa yang dialami Umayyah dan berkata, "Janganjangan kamu sedang haid?" Umayyah pun segera menjawab, "Benar, ya, Rasulullah." Lalu, Rasul pun meminta Umayyah membersihkan diri dengan air bercampur garam. Sejak peristiwa itu, Umayyah selalu membersihkan haidnya dengan air yang dibubuhi garam. Bahkan, di hari wafatnya, Umayyah berwasiat untuk dimandikan dengan air yang bergaram.

Pada Peperangan Khaibar itu, kaum Muslimin meraih kemenangan. Pasukan Muslimin di bawah komando Ali bin Abi Thalib berhasil meruntuhkan pintu Benteng Na'im--jantung terakhir perlawanan musuh. Benteng Na'im jatuh ke tangan pasukan Islam. Setelah itu, benteng demi benteng dikuasai. Seluruhnya dikuasai melalui pertarungan yang sengit. Orang-orang Yahudi lalu menyerah. Seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh kekayaannya, kecuali Kinana bin Rabi', yang terbukti berbohong saat dimintai keterangan Rasulullah.

Dari Peperangan Khaibar itu, kaum Muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang sangat banyak. Seusai pertempuran, Rasulullah SAW memberikan penghargaan kepada Umayyah berupa sebuah kalung. Hadiah yang diberikan Rasulullah SAW itu begitu bermakna bagi Umayyah. Ia pun tak pernah melepaskan kalung itu dari lehernya sampai jasadnya dikubur di liang lahat, sesuai wasiatnya.

Umayyah begitu bangga mendapat penghargaan kalung dari Rasulullah SAW. Kelak, kalung tersebut akan menjadi saksi atas jasa dan perjuangannya. Pada hari Kebangkitan nanti, tutur Muhammad Ibrahim Salim dalam bukunya berjudul Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW, akan dibangkitkan sesuai kondisinya saat meninggal.

"Dari kisah ini, hendaknya para Muslimah meneladani jiwa kepahlawanan Umayyah yang mengikhlaskan dirinya untuk terjun ke medan laga demi mengobati luka dan menolong kaum Muslimin sekuat tenaga," ungkap Ibrahim Salim.
Kisah ini juga mengungkapkan kepada kita sikap seorang pemimpin Islam yang menghargai jasa para pejuang. 

Siapakah yang Membangun Ka'bah?

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH--Kabah berkali-kali rusak sehingga harus berkali-kali dibongkar sebelum dibangun kembali. Di Museum Haramain, benda-benda itu disim pan. Ada kotak tempat menyimpan parfum yang dulu pernah mengisi ruangan Kabah. "Ruang Kabah isinya hanya tiga pilar dan kotak parfum itu,'' ujar Abdul Rahman, menunjuk pilar-pilar dan kotak yang letaknya berjauhan.

Petugas Museum Haramain di Ummul Joud, Makkah, itu mengantar kami keliling melihat koleksi museum. Museum ini menyimpan benda-benda dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ada potongan pilar Kabah yang bentuknya sudah seperti kayu fosil berwarna cokelat tua, disimpan bersama kunci pintu Kabah dari kayu, juga berwarna cokelat tua. Pintu Kabah selalu dikunci dan pemegang kunci sudah turun-temurun dari satu keluarga, sejak sebelum Nabi lahir.

Tangga kuno yang pernah dipakai untuk masuk Kabah juga tersimpan di museum ini. Tersimpan pula pelapis Hajar Aswad serta pelapis dan pelindung Maqam Ibrahim. Jika orangorang berebut mencium pelindung Maqam Ibrahim, seharusnya yang layak dicium adalah yang tersimpan di museum ini karena usianya lebih tua dari pelindung yang sekarang dipasang.

Namun, tak ada anjuran mencium Maqam Ibrahim. Nabi hanya memberi contoh mencium Hajar Aswad.

Kotak parfum Kabah yang disimpan di museum ini juga berwarna cokelat tua. Sewaktu masih difungsikan di dalam Kabah, botol-botol parfum yang dipakai untuk mengharumkan ruangan Ka'bah disimpan di kotak itu.

Riwayat Kabah 

Kabah  awalnya dibangun oleh Adam dan kemudian anak Adam, Syist, melanjutkannya. Saat terjadi banjir Nabi Nuh, Kabah ikut musnah dan Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun kembali. Al-Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir mencatat riwayat itu berasal dari ahli kitab (Bani Israil), bukan dari Nabi Muhammad.

Kabah yang dibangun Ibrahim pernah rusak pada masa kekuasaan Kabilah Amaliq. Kabah dibangun kembali sesuai rancangan yang dibuat Ibrahim tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Saat dikuasai Kabilah Jurhum, Kabah juga mengalami kerusakan dan dibangun kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibuat berdaun dua dan dikunci.

Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka'bah selepas Nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, tinggi Ka'bah ditambah menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, kemudian disimpan oleh Qusai, hingga masa Ka'bah dikuasai oleh Quraisy pada masa Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad membantu memasangkan Hajar Aswad itu pada tempat semestinya.

Dari masa Nabi Ibrahim hingga ke bangsa Quraisy terhitung ada 2.645 tahun. Pada masa Quraisy, ada perempuan yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka'bah. Kiswah Ka'bah pun terbakar karenanya sehingga juga merusak bangunan Ka'bah. Kemudian, terjadi pula banjir yang juga menambah kerusakan Ka'bah. Peristiwa kebakaran ini yang diduga membuat warna Hajar Aswad yang semula putih permukaannya menjadi hitam.

Untuk membangun kembali Kabah, bangsa Quraisy membeli kayu bekas kapal yang terdampar di pelabuhan Jeddah, kapal milik bangsa Rum. Kayu kapal itu kemudian digunakan untuk atap Kabah dan tiga pilar Kabah. Pilar Kabah dari kayu kapal ini tercatat dipakai hingga 65 H. Potongan pilarnya tersimpan juga di museum.

Empat puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11 Hijriah), Ka'bah juga terbakar. Kejadiannya saat tentara dari Syam menyerbu Makkah pada 681 Masehi, yaitu di masa penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu Bakar, yang berarti juga keponakan Aisyah.

Kebakaran pada masa ini mengakibatkan Hajar Aswad yang berdiameter 30 cm itu terpecah jadi tiga.

Untuk membangun kembali, seperti masa-masa sebelumnya, Kabah diruntuhkan terlebih dulu. Abdullah AzZubair membangun Ka'bah dengan dua pintu. Satu pintu dekat Hajar Aswad, satu pintu lagi dekat sudut Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar Aswad. Abdullah bin Az-Zubair memasang pecahan Hajar Aswad itu dengan diberi penahan perak. Yang terpasang sekarang adalah delapan pecahan kecil Hajar Aswad bercampur dengan bahan lilin, kasturi, dan ambar.
Jumlah pecahan Hajar Aswad diperkirakan mencapai 50 butir.

Pada 693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi berkirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah kelima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi), memberitahukan bahwa Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu untuk Ka'bah dan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bangunan Ka'bah.

Hajjaj ingin mengembalikan Kabah seperti di masa Quraisy; satu pintu dan Hijir Ismail berada di luar bangunan Ka'bah. Maka, oleh Hajjaj, pintu kedua--yang berada di sebelah barat dekat Rukun Yamani--ditutup kembali dan Hijir Ismail dikembalikan seperti semula, yakni berada di luar bangunan Ka'bah.

Akan tetapi, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal setelah mengetahui Ka'bah di masa Abdullah bin AzZubair dibangun berdasarkan hadis riwayat Aisyah. Di masa berikutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid hendak mengembalikan bangunan Ka'bah serupa dengan yang dibangun Abdullah bin Az-Zubair karena sesuai dengan keinginan Nabi. Namun, Imam Malik menasihatinya agar tidak menjadikan Ka'bah sebagai bangunan yang selalu diubah sesuai kehendak setiap pemimpin. Jika itu terjadi, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati kaum Mukmin.

Pada 1630 Masehi, Kabah rusak akibat diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV membangun kembali, sesuai bangunan Hajjaj bin Yusuf hingga bertahan 400 tahun lamanya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang memulai proyek pertama pelebaran Masjidil Haram.

Replika mushaf di Museum ini tersimpan pula replika Quran mushaf Usmani yang bacaannya, susunan surah dan ayatnya, serta jumlah surah dan ayatnya dipakai sebagai panduan hingga sekarang. Yang berbeda cuma bentuk hurufnya.

Pada masa Khalifah Usman bin Affan (35 H) dibuatlah standardisasi penulisan Quran. Di masa itu, sahabatsahabat Nabi memiliki mushaf yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan surah dan ayat, maupun jumlah surah dan ayat.

Mushaf yang dimiliki Ibnu Mas'ud, misalnya, tidak menyertakan Surat AlFatihah dan susunan surat yang berbeda. Surah keenam bukanlah Surah Al-An'am, melainkan Surah Yunus.

Quran Ali bin Abi Thalib juga tak memiliki Surah Al-Fatihah. Ali juga tak memasukkan surah ke-13, 34, 66, dan 96 ke mushafnya. "Ukuran mushaf Usman yang asli berbeda dari yang ini.
Ini hanya duplikat,'' ujar Abdul Rahman.

Senin, 06 Desember 2010

Percakapan Antara Penghuni Neraka & Surga

Allah Ta’ala berfirman :


“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepd penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan), “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikan kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?’ Mereka (penduduk neraka) menjawab, ‘Betul.’ Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, ‘Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dzalim.’ (al-A’raf: 44) hingga firman-Nya,
Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atay makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.” Mereka (penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya di atas orang-orang kafir (al-A’raf: 50)

Tentang ayat tadi Ibnu Abbas seperti dikutip oleh Sufyan bin Uyainah dari Utsman ats-Tsaqafi, dari Sa’id bin Jubair mengatakan, “Seorang penghuni neraka memanggil temannya penghuni surga, ‘Aku sudah terbakar. Tolong beri aku air!’ Allah berfirman, ‘Jawab seruannya!’ Maka ia pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah mengharamkannya atas orang-orang kafir.’*

Khulaid al-Ashri menjelaskan makna firman Allah yang isinya, “Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.” (ash-Shaaffat: 55), yait di tengah-tengah neraka yang apinya sedang menyala-nyala, orang itu menyaksikan seonggok tengkorak sedang mendidih lalu berkata, “Itu tengkorak si polan temanku.” Sekalipun Allah mengenalkan ia pada temannya itu, ia akan sulit mengenalinya lantaran keelokannya sudah benar-benar berubah sama sekali. Pada saat itulah ia berkata seperti apa yang dikutip dalam Al-Qur’an, “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku.” (ash-Shaaffat: 56)

Ahmad bin Abu al-Hawari meriwayatkan dari Abdullah bin Ghayyats, ia berkata, sesungguhnya al-Farazi mengatakan, “Setiap orang mukmin di surga memiliki empat buah pintu. Pertama, pintu masuk para tamu, yaitu para malaikat. Kedua, pintu masuk isteri-isteri mereka dari bidadari. Ketiga, pintu yang terkunci antara ia dan penghuni neraka namun ia bisa membukanya kapan saja kehendaki. Jadi, ia bisa memandang mereka untuk merasakan betapa besar nikmat yang ia peroleh di surga. Dan keempat, pintu yang menghubungkan dia dengan Dar al Salam, yaitu sebuah tempat untuk pertemuan dia dengan Tuhan, kapan saja ia mau.”


NB : Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT dan terbebas dari belenggu api neraka. Amin…


Sumber : 
*Prahara Neraka, Ibnu Rajab al Hanbali

*Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tafsir Al Thabari VIII/144

Selamat Tahun Baru Islam 1432 H ^O^


Share With Moeslems mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1432 H. Semoga di tahun baru ini kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang lebih baik dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Juga agar Indonesia terhindar dari segala bencana alam. Amin... ^U^

Jumat, 03 Desember 2010

Serba-serbi Islam di Negeri Paman Sam



Apa yang terlintas di benak kamu begitu mendengar kata ‘Amerika’? Film Hollywood? Casino royale? Paparazzi? Umat Yahudi? Ya, semua yang kamu pikirkan benar, bahwa hollywod dan kawan-kawannya memang berkaitan erat dengan Amerika Serikat. Namun, kendati demikian, tahukah kamu bahwa Amerika juga punya sejarah tentang perkembangan Islam? Kali ini SWM akan membahas serba-serbi yang berkaitan tentang Islam di Amerika. Lalu, apa sajakah itu? Singkat saja deh kata pengantarnya, selamat membaca!

*Perangko Amerika bertema idul fitri
Pada tanggal 1 September 2001, United States Postal Services (USPS) telah mengeluarkan perangko baru, first class, yang bertemakan “Eid Mubarak” (selamat hari raya). Adapun tema ini diambil untuk menyambut perayaan dua hari raya besar umat Islam, yaitu idul fitri dan idul adha.

*Perjuangan USPS tidak mudah
Adapun perjuangan agar USPS mengeluarkan perangko ini tidaklah mudah. Organisasi-organisasi Islam beserta komintas Muslim di Amerika sudah berkali-kali mengirimkan surat pernyataan dan rekomendasi kepada pemerintah Amerika dan USPS untuk mengeluarkan perangko yang bertemakan tentang Islam, mengingat jumlah pemeluk Islam di negara ini telah menanjak dan Islam dikenal sebagai agama yang paling cepat berkembang di Amerika.

*Ketiga di Amerika.
Islam adalah agama terbesar ketiga di AS, setelah Nasrani dan Yahudi. Namun, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di sana. Bahkan, Deplu AS dalam program informasi internasionalnya memperkirakan pada tahun 2010 jumlah penduduk muslim di AS bisa melampaui jumlah kaum Yahudi. Artinya, Islam akan menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen. (Kita doakan saja… semoga perkembangan islam di bumi Hollywood dapat meningkat dengan cepat… Amin…)

*Migrasi Muslim di AS.
Dalam tulisannya yang berjudul “Membangun Lingkungan dan Masa Depan Islam di Amerika,” Dr. Juhaya S. Praja mengungkap fakta tentang gelombang migrasi orang Islam ke AS. Migrasi pertama terjadi pada tahun 1875-1912. Migrasi ini didominasi para pemuda desa yang tidak terpelajar dan tidak mempunyai keterampilan kerja.

*Orang Amerika Pertama yang Memeluk Islam
Akbar Muhammad, guru besar State University of New York, menyatakan bahwa orang Amerika pertama yang tercatat sebagai pemeluk Islam adalah Reverend Norman, seorang misionaris gereja Methodist di Turki. Ia memeluk Islam pada tahun 1870.

*Pendiri Organisasi Islam Pertama di Amerika.
Pada dekade berikutnya, Muhammad Alexander Russel Webb masuk Islam ketika bertugas sebagai Konsulat Jenderal AS di Filiphina (1887). Ia adalah pendiri organisasi Islam pertama di Amerika (1893). Ia sempat dua bulan berada di India dan berjumpa dengan sejumah pemimpin dan pemikir Muslim di India.

Etika Dalam Berteman

Salah satu pembahasan yang menarik yang dibicarakan dalam kitab Maraqi al-‘Ubudiyah adalah adab atau etika dalam berteman. Dengan memperhatikan etika dalam pergaulan, akan membuat persahabatan menjadi semakin langgeng.

Teman adalah sahabat dalam pergaulan. Bergaul dengan teman yang baik, niscaya akan mengantarkan kita pada perbuatan yang baik pula. Sebab, teman yang baik akan senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik. Karena itu, janganlah teman yang seperti ini disakiti. Sebaliknya, teman yang tidak baik akan membawa kita pada perbuatan yang tidak baik. Bergaul dengan teman seperti ini, dapat menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif.

Berkaitan dengan masalah ini, Imam Ghazali dan Syekh Nawawi menuliskan beberapa syarat atau adab dalam persahabatan atau memilih teman. Di dalam kitabnya ini, Syekh Nawawi menyebutkan setidaknya ada dua hal besar yang harus diperhatikan dalam pergaulan. Pertama, perhatikan terlebih dahulu tata cara berteman dan memilih teman yang baik, agar kita tidak ikut terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik. Kedua, kewajiban yang harus dipenuhi dalam berteman.

Al-Ghazali mengatakan, bila engkau mencari seseorang untuk dijadikan teman dalam menuntut ilmu, serta urusan keagamaan dan duniawi, maka perhatikanlah lima hal.

Pertama, pintar. Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar. Sebaliknya, berteman dengan orang yang bodoh, akan membuat diri kita menjadi bodoh. Dan kata al-Ghazali, tidak ada manfaatnya berteman dengan orang bodoh.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kedua, memiliki akhlak yang baik. Berteman dengan orang yang berakhlaq baik, akan mengantarkan kita menjadi orang baik. Dia akan senantiasa memberikan nasehat yang baik dan melarang kita melakukan perbuatan maksiat.

“Sahabat sejati adalah orang yang selalu bersamamu. Ia rela berkorban untuk membantumu. Dan ketika engkau sedang ditimpa kesusahan, maka ia akan senantiasa memperhatikan dan menolongmu.” Ujar Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, bergaullah dengan orang shaleh. Bergaul dengan orang shaleh akan membawa kita pada kedamaian dan ketenangan. Sedangkan bergaul dengan orang yang fasik akan membuat dirimu susah dan jiwamu tidak tenang.

Keempat, jangan tamak atau rakus. Berteman dengan orang yang tamak pada dunia, bagaikan racun yang membunuh. Dan kelima, bertemanlah dengan jujur. Jangan berteman dengan orang yang suka berdusta dan berlaku curang, karena dia akan membawa kita pada perbuatan menipu.
Adapun kewajiban seseorang dalam berteman, jelas Syekh Nawawi, senantiasa mau membantu teman yang sedang dalam kesusahan, baik dengan bantuan tenaga, pikiran, dan maupun materi (harta).

Kewajiban lainnya adalah senantiasa menyimpan rahasia teman, menutupi aibnya, dan tidak menyampaikan omongan lain yang mengecamnya, menyampaikan pujian orang lain atas dirinya, dan mendengarkan pembicaraan yang baik darinya tanpa berpura-pura.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, bila berbicara dengan seorang teman, maka perhatikanlah. Pandanglah wajahnya, jangan berpaling. Sebab, orang yang berbicara dengan lawan bicaranya yang tidak mau memandangnya, berarti ia tidak memperhatikan apa yang dibicarakan. Wallahu a’lam.

Sumber : Republika no. 86 hal. B9

Rabu, 24 November 2010

Ibnu Sina : "Bapak Kedokteran Modern" yang Multitalent


Setiap orang pasti pernah terkena penyakit. Entah itu penyakit yang ringan seperti batuk dan pilek maupun penyakit yang parah yang hanya bisa disembuhkan dengan operasi. Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah pergi kemanakah kita ketika  terserang penyakit?

Tentu dokter jawabannya. Perkembangan kesehatan masa kini sudah begitu maju. Terbukti klinik kesehatan, puskesmas dan rumah sakit -bisa dibilang- sudah tersebar dimana-mana. Kita tinggal mendatangi salah satu tempat tersebut lalu berkonsultasi kepada sang dokter. Selanjutnya dokter akan memberitahukan penyakit apa yang kita alami dan resep obat. Tugas kita? Penuhi aturan dokter dan minum obat sesuai yang dianjurkan. Gampang sekali bukan?

Mudahnya akses kesehatan pada era modern seperti ini, maka tak afdhol rasanya jika kita tidak berterimakasih kepada "Bapak Pengobatan Modern", sang cendikiawan Muslim, siapa lagi kalau bukan Ibnu Sina (980-1037) atau lebih sering disebut Avicenna di dunia barat. Ialah seorang dokter terkemuka yang mengenalkan penyakit saraf kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan) di samping menjadi seorang filsuf dan ilmuwan. Bahkan lebih dari itu, ia juga merupakan seorang penulis yang produktif. Terbukti karyanya yang berjudul "QANUN FI THIB" menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. George Sarton (kimiawan Belgia pada 1884-1956) saja sampai menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu." 

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ia lahir pada 980 M/ 370 H di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, (sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 M di Hamadan, Perisa (Iran). Ayahnya adalah seorang sarjana terhormat Ismaili yang berasal Balkh Khorasan. Kala beliau lahir, ayahnya adalah adalah gubernur salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur (sekarang wilayah Afghanistan dan juga Persia).

Intelektualitas Ibnu Sina terlihat pada usia 5 tahun dimana pada saat itu ia telah menghapal Al-Quran dan menjadi seorang ahli puisi Persia. Dan pada usia 16 tahun, selain mempelajari teori kedokteran, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan. Bahkan pada usianya yang ke-18 ia memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan dan mengemukakan bahwa, "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.

Oh ya teman, ada yang lupa nih! Ibnu Sina pernah meraih gelar-gelar dan julukan yang prestisius lho... Di antaranya adalah "Medicorum Principal" atau "Raja Diraja Doktor" oleh kaum Latin Skolastik, "Raja Obat", dan dalam dunia Islam, ia dianggap sebagai "Zenith", puncak tertinggi dalam ilmu kedokteran. Nggak hanya itu saja, beliau juga menjadi "Dokter Raja" yaitu dokternya Raja Nuh 11 bin Mansur di Bukhara pada tahun 378 H/ 997 M (saat ia berusia 18 tahun). Ceritanya pada waktu itu penyakit sultan dalam keadaan parah. Namun lantaran tidak ada doktor lain yang bisa mengobati baginda, Ibnu Sina pun turun tangan . Kabar baiknya, keadaan sang raja berangsur-angsur membaik hingga pada akhirnya kesehatannya kembali pulih. Hebat banget kan?

Eits, nggak cuma terkenal di bidang kedokteran aja, beliau juga ahli di bidang geografi, geologi, kimia dan bahkan kosmologi. Widih..! Keren yaa?? Maka tak salah jika Reuben Levy (Profesor Persia, 28 April 1891-6 September 1966) mengemukakan bahwa Ibnu Sina telah menerangkan bahwa benda-benda logam sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lain. Setiap logam terdiri dari berbagai jenis. Nah, dari penerangan itulah ia dianggap mengembangkan ilmu kimia yang sebelumnya dirintis oleh Bapak Kimia Muslim, yakni Jabbir Ibnu Hayyan.

Ibnu Sina cukup berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Terbukti karya-karyanya -bisa dibilang- sudah menjadi rujukan dimana-mana, khususnya dalam bidang kedokteran.

Berikut adalah karya-karya beliau :

1. Bidang logika "Isaguji", "The Isagoge", ilmu logika Isagoge.

2.Fi Aqsam al-Ulum al-Aqliyah (On the Divisions of the Rational Sciences) tentang pembagian ilmu-ilmu rasional.

3.Bidang metafizika , "Ilahiyyat" (Ilmu ketuhanan)

4.Bidang psikologi , "Kitab an-Nayat" (Book of Deliverence) buku tentang kebahagiaan jiwa.

5. Fiad-Din yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi "Liber de Mineralibus" yakni tentang pemilikan.

6.Bidang sastra arab "Risalah fi Asab Huduts al-Huruf",risalah tentang sebab-sebab terjadinya huruf.

7.Bidang syair dan prosa "Al-Qasidah al- Aniyyah" syair-syair tentang jiwa manusia.

8.Cerita-cerita roman fiktif , "Risalah ath-Thayr" cerita seekor burung.

9.Bidang politik "Risalah as-Siyasah" (Book on Politics) – Buku tentang politik.

Cukup banyak karya dan hasil pola pikirnya yang dijadikan sebagai rujukan di dunia, khususnya dalam bidang kedokteran. Sampai pada akhirnya  dalam usia 58 tahun (1037 M) beliau pun dipanggil Sang Ilahi, tepatnya kala ia sedang mengajar di sebuah sekolah. Kini "Bapak Kedokteran Muslim" itu telah tiada. Kendati demikian namanya dikenang dalam sejarah serta menambah daftar cendikiawan-cendikiawan Muslim yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan.  Lantas, mungkinkah kita yang menjadi berikutnya, sebagai AVICENA masa kini?

Minggu, 21 November 2010

SWM Tunggu Karya Teman-teman Lho...!! ^O^

Assalammualaikum wr. wb.... ^O^

Bagi teman-teman yang punya artikel, cerpen, essay, info, rubrik, anekdot ataupun puisi yang kiranya layak untuk dimuat di blog SWM (apa saja, boleh sains, budaya, apa saja lah. Terlebih yang berkaitan dengan agama), teman-teman dapat mengirimkan karya teman-teman ke e-mail sharewithmoeslems@gmail.com dengan menyebut nama penulisnya.

Karya teman-teman SWM tunggu lho...
terima kasih... ^O^

Wassalammualaikum wr. wb.

Jumat, 19 November 2010

Masjid Fatah : Mengenal Masjid Tempat Rasulullah Memimpin Pasukan Khandaq

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sebelum peperangan melawan kaum kafir Quraisy di daerah Khandaq ini, umat Islam sangat khawatir menghadapi mereka. Pasalnya, jumlah pasukan Quraisy dan sekutunya mencapai sekitar 10 ribu orang. Sementara itu, dari kalangan umat Islam, hanya sebanyak empat ribu orang. Sebuah peperangan yang tidak seimbang. Hal ini merupakan ujian yang sangat berat bagi kaum Muslimin.

Dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan, beratnya kondisi yang dihadapi umat Islam. "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) padamu ketika datang kepada tentara-tentara kepadamu. Lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan Allah Maha Melihat akan apa yang kami kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawah. Dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacammacam prasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat (berat)." (QS Al-Ahzab [33]: 9-11).

Bahkan, saat penggalian parit, Rasul SAW turun tangan untuk membantu kaum Muslimin. Tak hanya pekerjaan untuk menyelesaikan galian parit yang mencapai lebih dari lima kilometer itu, tetapi juga karena minimnya bekal makanan.

Abu Thalhah meriwayatkan, saat penggalian itu, kaum Muslimin terpaksa mengganjal perut mereka dengan beberapa buah batu. "Ketika kami mengeluh kelaparan kepada Rasulullah, kami berjalan sambil mengganjal perut dengan beberapa buah batu. Dan kami menyaksikan Rasulullah juga mengganjal perutnya dengan dua buah batu."

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; "Ketika kami sedang menggali parit pada Perang Khandaq, kami menemukan tanah yang keras, maka mereka mengadukan kepada Rasul, kemudian Rasul menjawab; "Biarlah aku sendiri yang mencangkulnya." Kemudian Rasul mencangkulnya, dan akhirnya tanah yang keras itu berubah menjadi lunak bagaikan onggokan pasir." (HR Bukhari).

Ungkapan serupa juga diriwayatkan Imam Baihaqi dari Al-Barra bin Azib Al-Anshariy RA. "Pada saat kaum Muslimin menggali parit, mereka melihat sebuah batu besar yang tidak dapat dipecahkan dengan cangkul atau beliung mereka. Mereka memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Dengan tiga kali ayunan beliung Rasul, batu besar itu hancur berkeping-keping."

Maka, ketika penggalian parit selesai, beberapa hari kemudian, datanglah pasukan kafir Quraisy. Menyaksikan jumlahnya yang demikian besar, Rasul SAW berdoa agar Allah membantu perjuangan kaum Muslimin. Doa beliau itu dipanjatkan saat berada di Masjid Fatah. Beliau berdoa selama tiga hari berturut-turut. Dan akhirnya, peperangan ini berhasil dimenangkan kaum Muslimin atas bantuan Allah yang mengirimkan tentara Malaikat yang tak terlihat.

Dinamakan dengan Masjid Fatah disebabkan umat Islam memperoleh kemenangan. Al-Fatah berarti kemenangan. Masjid ini berada di atas bukit Sila (Sal'a). Bukit ini disebut juga dengan nama Jabal as-Sila'.

Mau IQ Meningkat? Al-Quran Jawabannya!!

Ternyata Al Quran dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka.

Dr Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al Quran dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang. Penulis pun mempunyai seorang keponakann yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara orang mengaji melalui tape recorder.

Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Hanya arahnya tidak tentu. Sedangkan Al Quran, selain itu, sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan Al Quran diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat.

Seperti diketahui, dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang outputnya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al Quran pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al Quran mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak.

Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apa lagi kalau bukan ”intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar.

bayi selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksij. Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak.

Memang bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, Karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu.

Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir. la telah mulai bekerja yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas. Umumnya pendengaran Iebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya.

Dalam kaitan” upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogianya bayi sudah diperdengarkan bacaan Al Quran sejak dalam rahim. Jadi, bila ada anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al Quran menjelang bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat Al Quran, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi. Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al Quran beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.

Bila banyak ibu hamil yang sanggup membeli kaset lagu pop, dangdut, sampai musik klasik, rasanya ironis bila kaset qiraah Al Quran saja tidak sampai terbeli. Apalagi harganya relatif murah. 

Do You Know?

BODY HAIRS WHICH MUST BE CUT
There are some body hairs and part which must be cleaned and cut. From Aisyah, the Prophet said, “Ten things from goodness; cut mustache, neat the beard, brush the teeth, rinse the mouth and clean the nose, cut the nails, washing the nails, ears, hair of armpit, public hair, istinja and I was forgot the tenth, maybe rinse the mouth.” (HR Ahmad, Moeslems, an-Nasai, and at-Tirmidzi)

IF ALLAH IN THE HEART, SO DON’T WORRY TO DIE
Abu Turab, a Mistycal has a interesting experience. He look a girl who go to Sahara without food. In the heart he said that if the girl has not faith, she will destroyed.” Next he ask, “Hi kid, why do you go in this place without food?” The girl answer simply, “Hi mister, raise your head, what do you see things except Allah?” Abu Turab is silent, then said, “If that, go wherever you want!”

Kisah Sebuah Kalung

Suatu hari, seorang laki-laki tua datang mengenakan pakaian usang. Langkahnya sempoyongan ketika menemui Rasulullah saw. “Wahai Nabi, aku lapar, telanjang (berpakaian usang) dan miskin. Berilah aku pakaian, sandang, dan bantuan!”

Saat itu, Rasul tengah dilanda kesusahan. “Sungguh, aku ini tak memiliki apa-apa yang dapat aku berikan kepadamu. Pergilah ke rumah perempuan yang mendahulukan Allah daripada dirinya, yakni Fatimah...!”

Bilal kemudian mengantar orang tua itu ke rumah Fatimah. Di hadapannya, orang tua itu berkata, “Wahai putri Muhammad! Aku lapar dan butuh pakaian. Tolonglah aku, semoga Allah memberkatimu!”

Ketika itu, Fatimah juga dilanda kesusahan, tetapi ketika melihat kondisi orang tua itu, ia tidak tega. Ia memberi kulit biri-biri yang biasa dipakai alas tidur Hasan dan Husain, “Ambillah ini! Semoga Allah menggantinya bagimu dengan yang lebih baik lewat menjualnya.”

“Wahai Fatimah! Aku mengeluh lapar kepadamu dan engkau memberiku kulit biri-biri! Bagaimana bisa aku makan dengan ini?”

Fatimah seperti diiris sembilu. Lantas, ia mengulurkan kalungnya. Orang itu mengambil kalung tersebut, lalu kembai menemui Nabi. “Wahai Nabi! Fatimah memberiku kalung dan memintaku untuk menjualnya...”

Rasul tersenyum, “Sungguh, Allah akan memberimu jalan keluar, karena Fatimah memberimu kalung ini.”

Ammar bin Yasir yang ada di dekat Nabi meminta izin kepada Nabi untuk membeli kalung itu. Rasul memeri izin dan Ammar menanyakan harganya.

“Sepiring roti dan daging, sehelai baju Yaman untuk menutupi auratku dan mendirikan shalat di hadapan Allah, uang 1 dinar agar aku bisa pulang!”

Ammar yang baru menjual harta rampasan perang Khaibar, ternyata, menawar lebih, “Aku memberimu 20 dinar, 200 dirham, sehelai baju Yaman, kuda untuk membawamu pulang dan kebutuhanmu akan roti dan daging.”

Setelah Ammar mengajak orang itu untuk memenuhi janjinya, orang itu menemui Nabi lagi, “Aku kini jadi kaya. Semoga ayah dan ibuku jadi benebus bagi Anda.” Nabi menimpali, “Maka, balaslah Fatimah atas kemurahanhatinya!” Orangtua itu memanjatkan doa. Setelah itu, ia pun pamit pulang.

Ketika Ammar membeli kalung itu, rupanya ia punya maksud lain. Ia membungkus kalung itu kemudian meminta budaknya, Shahm, untuk mengantarkannya pada Nabi, “Berikan kalung ini pada Rasulullah! Katakan pada beliau, aku serahkan kamu pada Fatimah!”

Shahm menyampaikan pesan Nabi. Fatimah menerima kalung itu, seraya mengatakan bahwa Shahm telah merdeka. Seketika itu, Shahm tertawa. Karena tak tahu di balik tawa Shahm itu, maka Fatimah pun bertanya kepadanya.

“Aku tertawa karena memikirkan kebajikan kalung ini. Ia memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang telanjang, melapangkan orang miskin, membebaskan budak, dan kembali pada pemilik aslinya.

(Sumber : Majalah Hidayah edisi Mei 2008, rubrik Tadzkirah)

Habib Ali al-Habsyi : Berawal Dari Mimpi, Disitulah Bermuara Percikan Ilmu

Siapa yang tak kenal Albert Einstein, Barrack Obama, Alexander Graham Bell, James Watt, Christopher Colombus, dan Thomas Alfa Edison? SWM rasa kalian semua pasti mengenalnya. Atau kalau pun tidak, minimal pernah mendengarnya. Ya, tak salah lagi, mereka memang tokoh-tokoh yang terkenal akan kreativitasnya, bahkan beberapa di antaranya masuk dalam kategori 100 tokoh paling berpengaruh. Namun bagaimana jika pertanyaannya diganti dengan nama “HabibAli Al-Habsyi Kwitang”? Hmmm... mungkin jarang orang yang mengenalnya.

Ironis memang, namun inilah kenyataannya. Kita orang islam namun kita jarang mengenal tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan islam. Ada pepatah yang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Nah, maka dari itu rasanya ada baiknya jika kita mengenal tokoh yang menyebarkan ilmu di tanah betawi ini.

Habib Ali al-Habsyi adalah putera dari Habib Abdurrahman Alhabsyi dan ibunya adalah Nyai Salmah. Ketika akan melahirkan Habib Ali, Nyai Salmah bermimpi menggali sumur yang mengeluarkan air meluap dan membanjiri sekelilingnya. Habib Abdurrahman yang mendengar mimpi istrinya segera menemui Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, meminta pandangan. “Kamu akan mendapatkan putra yang shaleh dan ilmunya melimpah keberkatannya,” ujar Habib Ahmad ketika itu.

Minggu tanggal 20 Jumadil Awal 1286 bertepatan tanggal 20 April 1870 Nyai Salmah melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Ali bin Abdurraahman al-Habsyi.

Habib Ali termasuk tokoh yang berjasa dalam perkembangan islam, khususnya di tanah 'tanjidor'. Terbukti pada 1920 beliau mendirikan taklim. Serta membangun masjid di Kwitang dengan nama Masjid Ar-Riyadh dan di sampingnya, dibangun pula madrasah dengan nama Unwanul Falah.

Menurut sejarawan Betawi, Umar Shahab, penjajah Jepang-- dalam upaya menarik dukungan masyarakat Indonesia-- telah mendekati para alim ulama yang punya karisma besar di tengah masyarakat. Setiap pagi, saat munculnya matahari, rakyat diharuskan membungkuk menghadap matahari. Tenno Heika, kaisar Jepang kala itu dan kaisar-kaisar sebelumnya oleh rakyaktnya dianggap putra dewa matahari.

Ketika itu, para ulama dan tokoh pejuang menolak keharusan ini karena dianggap sebagai perbuatan musyrik. Akhirnya, kebiasaan ini dihentikan. Habib Ali adalah salah seorang yang menolak kebijakan itu dengan menggelar taklim setiap Minggu pagi. Majelis Kwitang inilah yang kemudian memberi vitamin bagi masyarakat lain untuk menggelar taklim di tempat lain.

Namun sayang, di usianya yang ke-102 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Oktober 1968, beliau wafat. TVRI yang kala itu menjadi satu-satunya televisi pun turut mengabarkan berita duka itu kepada khalayak ramai. Kendati demikian tanah Jakarta tak akan pernah kering sebab percikan-percikan ilmunya terus mengalir lewat para penerusnya yang tersebar dimana-mana.

(Dari berbagai sumber)