Jumat, 03 Desember 2010

Serba-serbi Islam di Negeri Paman Sam



Apa yang terlintas di benak kamu begitu mendengar kata ‘Amerika’? Film Hollywood? Casino royale? Paparazzi? Umat Yahudi? Ya, semua yang kamu pikirkan benar, bahwa hollywod dan kawan-kawannya memang berkaitan erat dengan Amerika Serikat. Namun, kendati demikian, tahukah kamu bahwa Amerika juga punya sejarah tentang perkembangan Islam? Kali ini SWM akan membahas serba-serbi yang berkaitan tentang Islam di Amerika. Lalu, apa sajakah itu? Singkat saja deh kata pengantarnya, selamat membaca!

*Perangko Amerika bertema idul fitri
Pada tanggal 1 September 2001, United States Postal Services (USPS) telah mengeluarkan perangko baru, first class, yang bertemakan “Eid Mubarak” (selamat hari raya). Adapun tema ini diambil untuk menyambut perayaan dua hari raya besar umat Islam, yaitu idul fitri dan idul adha.

*Perjuangan USPS tidak mudah
Adapun perjuangan agar USPS mengeluarkan perangko ini tidaklah mudah. Organisasi-organisasi Islam beserta komintas Muslim di Amerika sudah berkali-kali mengirimkan surat pernyataan dan rekomendasi kepada pemerintah Amerika dan USPS untuk mengeluarkan perangko yang bertemakan tentang Islam, mengingat jumlah pemeluk Islam di negara ini telah menanjak dan Islam dikenal sebagai agama yang paling cepat berkembang di Amerika.

*Ketiga di Amerika.
Islam adalah agama terbesar ketiga di AS, setelah Nasrani dan Yahudi. Namun, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di sana. Bahkan, Deplu AS dalam program informasi internasionalnya memperkirakan pada tahun 2010 jumlah penduduk muslim di AS bisa melampaui jumlah kaum Yahudi. Artinya, Islam akan menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen. (Kita doakan saja… semoga perkembangan islam di bumi Hollywood dapat meningkat dengan cepat… Amin…)

*Migrasi Muslim di AS.
Dalam tulisannya yang berjudul “Membangun Lingkungan dan Masa Depan Islam di Amerika,” Dr. Juhaya S. Praja mengungkap fakta tentang gelombang migrasi orang Islam ke AS. Migrasi pertama terjadi pada tahun 1875-1912. Migrasi ini didominasi para pemuda desa yang tidak terpelajar dan tidak mempunyai keterampilan kerja.

*Orang Amerika Pertama yang Memeluk Islam
Akbar Muhammad, guru besar State University of New York, menyatakan bahwa orang Amerika pertama yang tercatat sebagai pemeluk Islam adalah Reverend Norman, seorang misionaris gereja Methodist di Turki. Ia memeluk Islam pada tahun 1870.

*Pendiri Organisasi Islam Pertama di Amerika.
Pada dekade berikutnya, Muhammad Alexander Russel Webb masuk Islam ketika bertugas sebagai Konsulat Jenderal AS di Filiphina (1887). Ia adalah pendiri organisasi Islam pertama di Amerika (1893). Ia sempat dua bulan berada di India dan berjumpa dengan sejumah pemimpin dan pemikir Muslim di India.

Etika Dalam Berteman

Salah satu pembahasan yang menarik yang dibicarakan dalam kitab Maraqi al-‘Ubudiyah adalah adab atau etika dalam berteman. Dengan memperhatikan etika dalam pergaulan, akan membuat persahabatan menjadi semakin langgeng.

Teman adalah sahabat dalam pergaulan. Bergaul dengan teman yang baik, niscaya akan mengantarkan kita pada perbuatan yang baik pula. Sebab, teman yang baik akan senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik. Karena itu, janganlah teman yang seperti ini disakiti. Sebaliknya, teman yang tidak baik akan membawa kita pada perbuatan yang tidak baik. Bergaul dengan teman seperti ini, dapat menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif.

Berkaitan dengan masalah ini, Imam Ghazali dan Syekh Nawawi menuliskan beberapa syarat atau adab dalam persahabatan atau memilih teman. Di dalam kitabnya ini, Syekh Nawawi menyebutkan setidaknya ada dua hal besar yang harus diperhatikan dalam pergaulan. Pertama, perhatikan terlebih dahulu tata cara berteman dan memilih teman yang baik, agar kita tidak ikut terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik. Kedua, kewajiban yang harus dipenuhi dalam berteman.

Al-Ghazali mengatakan, bila engkau mencari seseorang untuk dijadikan teman dalam menuntut ilmu, serta urusan keagamaan dan duniawi, maka perhatikanlah lima hal.

Pertama, pintar. Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar. Sebaliknya, berteman dengan orang yang bodoh, akan membuat diri kita menjadi bodoh. Dan kata al-Ghazali, tidak ada manfaatnya berteman dengan orang bodoh.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kedua, memiliki akhlak yang baik. Berteman dengan orang yang berakhlaq baik, akan mengantarkan kita menjadi orang baik. Dia akan senantiasa memberikan nasehat yang baik dan melarang kita melakukan perbuatan maksiat.

“Sahabat sejati adalah orang yang selalu bersamamu. Ia rela berkorban untuk membantumu. Dan ketika engkau sedang ditimpa kesusahan, maka ia akan senantiasa memperhatikan dan menolongmu.” Ujar Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, bergaullah dengan orang shaleh. Bergaul dengan orang shaleh akan membawa kita pada kedamaian dan ketenangan. Sedangkan bergaul dengan orang yang fasik akan membuat dirimu susah dan jiwamu tidak tenang.

Keempat, jangan tamak atau rakus. Berteman dengan orang yang tamak pada dunia, bagaikan racun yang membunuh. Dan kelima, bertemanlah dengan jujur. Jangan berteman dengan orang yang suka berdusta dan berlaku curang, karena dia akan membawa kita pada perbuatan menipu.
Adapun kewajiban seseorang dalam berteman, jelas Syekh Nawawi, senantiasa mau membantu teman yang sedang dalam kesusahan, baik dengan bantuan tenaga, pikiran, dan maupun materi (harta).

Kewajiban lainnya adalah senantiasa menyimpan rahasia teman, menutupi aibnya, dan tidak menyampaikan omongan lain yang mengecamnya, menyampaikan pujian orang lain atas dirinya, dan mendengarkan pembicaraan yang baik darinya tanpa berpura-pura.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, bila berbicara dengan seorang teman, maka perhatikanlah. Pandanglah wajahnya, jangan berpaling. Sebab, orang yang berbicara dengan lawan bicaranya yang tidak mau memandangnya, berarti ia tidak memperhatikan apa yang dibicarakan. Wallahu a’lam.

Sumber : Republika no. 86 hal. B9

Rabu, 24 November 2010

Ibnu Sina : "Bapak Kedokteran Modern" yang Multitalent


Setiap orang pasti pernah terkena penyakit. Entah itu penyakit yang ringan seperti batuk dan pilek maupun penyakit yang parah yang hanya bisa disembuhkan dengan operasi. Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah pergi kemanakah kita ketika  terserang penyakit?

Tentu dokter jawabannya. Perkembangan kesehatan masa kini sudah begitu maju. Terbukti klinik kesehatan, puskesmas dan rumah sakit -bisa dibilang- sudah tersebar dimana-mana. Kita tinggal mendatangi salah satu tempat tersebut lalu berkonsultasi kepada sang dokter. Selanjutnya dokter akan memberitahukan penyakit apa yang kita alami dan resep obat. Tugas kita? Penuhi aturan dokter dan minum obat sesuai yang dianjurkan. Gampang sekali bukan?

Mudahnya akses kesehatan pada era modern seperti ini, maka tak afdhol rasanya jika kita tidak berterimakasih kepada "Bapak Pengobatan Modern", sang cendikiawan Muslim, siapa lagi kalau bukan Ibnu Sina (980-1037) atau lebih sering disebut Avicenna di dunia barat. Ialah seorang dokter terkemuka yang mengenalkan penyakit saraf kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan) di samping menjadi seorang filsuf dan ilmuwan. Bahkan lebih dari itu, ia juga merupakan seorang penulis yang produktif. Terbukti karyanya yang berjudul "QANUN FI THIB" menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. George Sarton (kimiawan Belgia pada 1884-1956) saja sampai menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu." 

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ia lahir pada 980 M/ 370 H di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, (sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 M di Hamadan, Perisa (Iran). Ayahnya adalah seorang sarjana terhormat Ismaili yang berasal Balkh Khorasan. Kala beliau lahir, ayahnya adalah adalah gubernur salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur (sekarang wilayah Afghanistan dan juga Persia).

Intelektualitas Ibnu Sina terlihat pada usia 5 tahun dimana pada saat itu ia telah menghapal Al-Quran dan menjadi seorang ahli puisi Persia. Dan pada usia 16 tahun, selain mempelajari teori kedokteran, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan. Bahkan pada usianya yang ke-18 ia memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan dan mengemukakan bahwa, "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.

Oh ya teman, ada yang lupa nih! Ibnu Sina pernah meraih gelar-gelar dan julukan yang prestisius lho... Di antaranya adalah "Medicorum Principal" atau "Raja Diraja Doktor" oleh kaum Latin Skolastik, "Raja Obat", dan dalam dunia Islam, ia dianggap sebagai "Zenith", puncak tertinggi dalam ilmu kedokteran. Nggak hanya itu saja, beliau juga menjadi "Dokter Raja" yaitu dokternya Raja Nuh 11 bin Mansur di Bukhara pada tahun 378 H/ 997 M (saat ia berusia 18 tahun). Ceritanya pada waktu itu penyakit sultan dalam keadaan parah. Namun lantaran tidak ada doktor lain yang bisa mengobati baginda, Ibnu Sina pun turun tangan . Kabar baiknya, keadaan sang raja berangsur-angsur membaik hingga pada akhirnya kesehatannya kembali pulih. Hebat banget kan?

Eits, nggak cuma terkenal di bidang kedokteran aja, beliau juga ahli di bidang geografi, geologi, kimia dan bahkan kosmologi. Widih..! Keren yaa?? Maka tak salah jika Reuben Levy (Profesor Persia, 28 April 1891-6 September 1966) mengemukakan bahwa Ibnu Sina telah menerangkan bahwa benda-benda logam sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lain. Setiap logam terdiri dari berbagai jenis. Nah, dari penerangan itulah ia dianggap mengembangkan ilmu kimia yang sebelumnya dirintis oleh Bapak Kimia Muslim, yakni Jabbir Ibnu Hayyan.

Ibnu Sina cukup berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Terbukti karya-karyanya -bisa dibilang- sudah menjadi rujukan dimana-mana, khususnya dalam bidang kedokteran.

Berikut adalah karya-karya beliau :

1. Bidang logika "Isaguji", "The Isagoge", ilmu logika Isagoge.

2.Fi Aqsam al-Ulum al-Aqliyah (On the Divisions of the Rational Sciences) tentang pembagian ilmu-ilmu rasional.

3.Bidang metafizika , "Ilahiyyat" (Ilmu ketuhanan)

4.Bidang psikologi , "Kitab an-Nayat" (Book of Deliverence) buku tentang kebahagiaan jiwa.

5. Fiad-Din yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi "Liber de Mineralibus" yakni tentang pemilikan.

6.Bidang sastra arab "Risalah fi Asab Huduts al-Huruf",risalah tentang sebab-sebab terjadinya huruf.

7.Bidang syair dan prosa "Al-Qasidah al- Aniyyah" syair-syair tentang jiwa manusia.

8.Cerita-cerita roman fiktif , "Risalah ath-Thayr" cerita seekor burung.

9.Bidang politik "Risalah as-Siyasah" (Book on Politics) – Buku tentang politik.

Cukup banyak karya dan hasil pola pikirnya yang dijadikan sebagai rujukan di dunia, khususnya dalam bidang kedokteran. Sampai pada akhirnya  dalam usia 58 tahun (1037 M) beliau pun dipanggil Sang Ilahi, tepatnya kala ia sedang mengajar di sebuah sekolah. Kini "Bapak Kedokteran Muslim" itu telah tiada. Kendati demikian namanya dikenang dalam sejarah serta menambah daftar cendikiawan-cendikiawan Muslim yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan.  Lantas, mungkinkah kita yang menjadi berikutnya, sebagai AVICENA masa kini?

Minggu, 21 November 2010

SWM Tunggu Karya Teman-teman Lho...!! ^O^

Assalammualaikum wr. wb.... ^O^

Bagi teman-teman yang punya artikel, cerpen, essay, info, rubrik, anekdot ataupun puisi yang kiranya layak untuk dimuat di blog SWM (apa saja, boleh sains, budaya, apa saja lah. Terlebih yang berkaitan dengan agama), teman-teman dapat mengirimkan karya teman-teman ke e-mail sharewithmoeslems@gmail.com dengan menyebut nama penulisnya.

Karya teman-teman SWM tunggu lho...
terima kasih... ^O^

Wassalammualaikum wr. wb.